“Antara kuliah, kerja, atau menjadi ibu rumah tangga”

Sore itu, seperti biasa aku selalu menemani Derrent si pipi bakpao ketika disuapi makan oleh ibundanya. Sesekali aku menggodanya hingga Derrent tertawa geli, ataupun mendaratkan kecupan di pipi bakpaonya. Anak kecil itu gampang sekali makannya dalam porsi yang banyak pula.

Beberapa menit kemudian, terlihat dari kejauhan seorang ibu muda sedang mendorong sepedah biru khas anak-anak yang ditumpangi sebut saja Fathur. Saat itu Derrent sudah selesai menyantap makanannya dan sedang asyik “dititah” untuk belajar jalan. Sang ibunda Fathur ternyata mendekati kami, yang kebetulan sedang duduk di depan rumahku. “Eh Fathur, lagi makan ya?” Aku menyapanya. “Tuh Derrent lg belajar jalan” ucapku selanjutnya. Derrent memang bisa dibilang dekat sekali dengan aku, orang tuaku, dan Mas Yudi seperti adik kecil ku sendiri.

Saat itu aku tidak sendiri, tetapi ibu dan bapak ku juga ikut keluar untuk melihat Derrent. Mungkin tidak asing lagi jika pembicaraan yang menemani tidak terfokus hanya pada pada satu hal, melainkan seperti dari asal nyeplos kemudian akan berkembang selanjutnya. Pembicaraan yang pada akhirnya menemani bertemakan “Antara kuliah, kerja, atau memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja”

Sepintas temanya membuat orang galau-bimbang-bingung, bukan? Meskipun begitu harus kita pilih dalam menjalani hidup.

Ibunda Fathur pun menceritakan pilihannya ketika memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga yang seutuhnya. Pertama-tama, beliau memang meneruskan kuliah diploma ketika lulus dari bangku sekolah menengah. Singkatnya, setelah lulus dari kuliah diploma ia menunda untuk melanjutkannya untuk menjadi sarjana karena menurutnya beliau ingin mencari pengalaman terlebih dahulu dalam dunia pekerjaan. Bekerja memang membuat kita keasyikan karena beranggapan sudah bisa mendapatkan uang sendiri. Hingga pada akhirnya, beliau males untuk melanjutkan kuliah sarjana dan pada saat itu sudah keburu untuk melepas status lajangnya sehingga rencana ini pun gagal. Ketika mempunyai seorang anak, beliau lebih memutuskan untuk berhenti dari kerjanya dan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Beliau berkata, “memang ujung-ujungnya di dapur juga..”

Aku pun yang menyimak ceritanya tidak banyak berkomentar, karena jika aku berkomentar pun takut menyinggungnya.

 

Dari sini hanya ingin sekedar mengeluarkan pendapatku yang belum sempat terucap (heheh).

Jika memang kita merasa males untuk melanjutkan kuliah ke jenjang sarjana, setidaknya kita jangan terlalu terburu-buru untuk memutuskan suatu hal seperti memutuskan untuk berhenti bekerja karena sudah memiliki seorang anak. Karena kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi ke depannya, selain itu ketika masih memiliki suatu pekerjaan kita pun memiliki penghasilan sendiri sehingga tidak terlalu bingung jika memang tidak mempunyai uang sepeser pun.

Ini hanya sekadar sedikit opini ku. Opini yang aku pikirkan belum tentu akan sesuai dengan pemikiran masing-masing orang.

Itu memang sudah menjadi pilihan dari Ibunda Fathur untuk menjalani hidup, tidak ada yang bisa melarang apa yang beliau pilih.

Sekali lagi ini hanya sebuah opini, dan terima kasih sudah berbagi pengalamannya. Mungkin jika waktunya tiba, aku pun akan merasakan hal seperti ini ketika harus memutuskan sebuah keputusan yang dua-duanya sangat penting.

 

🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: