Denyut Senja

Sudah mulai gelap, ini senja yang dingin, hujan di Februari. Mengapa matahari seolah-olah lebih sering mengalah pada mendung dan hujan. Jujur aku benci itu. Yang aku harap adalah sinar yang hangat, dan matahari yang dulu. Aku juga tak tahu mengapa matahari yang sekarang lebih senang nampak dengan fatamorgananya, panasnya menusuk ubun-ubun, perih dikulit, terkesan menyiksa, sampai-sampai orang menyamakannya dengan suasana neraka, opini yang sangat awam. Tetapi memang tidak dipungkiri, panasnya memang sangat berpengaruh pada manusia. Manusia yang hobi mengeluh tentunya, tentang panas dan hujan(dingin).

 

Senja ini, dingin ini meraba-raba. Merasuk hingga ke dalam, memberdirikan bulu kuduk, di balik jendela sudah terlihat awan tebal, dan percikan air masih sedikit terdengar. Mungkin gerimis di luar sana seakan memberikan kesan gelisah. Banyak orang yang murung jika suasana sedang seperti ini. Entah mengapa manusia mudah terbawa suasana. Sedikit-sedikit menyanyi, sedikit-sedikit bersedih, sedikit-sedikit terbahak. Tidak mudah dimengerti tapi mudah untuk ditebak. Alur yang sederhana dari seorang manusia yang banyak berkonflik.

 

Bayangan malam sudah mulai menyebar melebar. Dingin semakin mencabik. Hewan malam mulai berkerumun. Malam yang menggigil di sela-sela kehangatan yang semu. Akan timbul banyak harap di sini karena mendung membuat pikiran tak jernih lagi. Timbul banyak siluet, banyak konflik banyak hal yang tak layak direnungkan yang akan menambah bobot di hati, membuat pikiran tidak seenteng sebelumnya. Mencoba-coba mengangkat satu permasalahan, satu masalah dari pelbagai masalah dan memusatkan pada satu pandangan. Meskipun masih saja bertanya-tanya, apa itu satu? Apa itu satu di antara banyak? Apakah semakin timbul kebingungan? Keambiguan? Mencoba mencari sandaran, bertumpu pada sesuatu yang kuat untuk menjawab segalah tanya segala masalah. Meskipun ini rumit dan akan semakin rumit.

 

Sihir malam semakin menguat, waktu terus berjalan. Saat-saat seperti ini adalah saat-saat yang semakin mendekati klimaks. Semakin banyak jeritan yang terlalu suram. Berusaha keras untuk tidak menutup telinga, tidak menutup mata demi menemukan suatu jawaban. Gelisah, mata berkaca-kaca seakan sakitnya sudah menembus kuasa. Ingin memeluk sesuatu (seseorang) karena sudah terlalu menggigil, melunturkan warna-warni yang semakin membingungkan, berusaha keras membasuh pikiran tak tentu, tak arah, tak ada batas, dan retak begitu saja. Tertunduk memeluk hampa, menyuguhkan kedinginan yang teramat sangat, semakin menggenggamnya. Semakin jauh harap semakin tak terbuka.

 

Semakin larut. Semakin sia-sia. Di luar, hujan masih saja menyisihkan luka. Di balik hujan, sakit kurelakan. Apa ini keputus asaan? Ternyata masih saja menimbulkan tanya, justru semakin banyak tanya. Dingin semakin menampar. Meninggalkan satu per satu tanda tanya. Memunguti satu per satu petunjuk yang tak kunjung tampak. Meneteskan butiran-butiran duka, lelah, bisu, rindu akan ketenangan. Malam semakin menganga, gelap, semakin gelap. Senja ini belum selesai atau tidak akan selesai, senja seperti ini akan datang di senja di kemudian hari. Kelopak mata memberat, terasa ruh ini ingin cepat merangkai plot-plot drama mimpi. Senja yang dingin selesai begitu saja, senja yang yang menari tanpa irama.

 

🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: