Belajar dari ulat

Kita pun Bisa Belajar dari Ulat

            Di sudut sebuah taman kota yang hijau menawan, tampaklah seorang ayah dan anak yang begitu bahagia.  Kebahagiaan itu muncul akibat rasa cinta yang timbul dari lubuk hati terdalam kepunyaan mereka, tak seorangpun yang bisa menjangkau atau bahkan merampas rasa cinta tersebut. Rasa cinta yang tak hanya diucapkan namun juga mengalir bersama darah dalam pengorbanan.  Cinta yang bersemi indah di bumi dan kelak akan berbuah manis di surga abadi.  Sang ayah ridho kepada sang anak, begitu pula sang anak yang ridho terhadap sang ayah.  Mereka menerima jamuan alam dengan penuh kebahagiaan.

Saat kebahagiaan menari-nari dalam hati mereka berdua, nampaknya ada suatu hal yang mengusik irama tarian kebahagiaan sang anak.  Rupanya sang anak sedari tadi memperhatikan ulat yang tengah memakan dedaunan pohon di atas mereka.  Sang anak memandang lekat ulat tersebut.  Menurut sang anak, ulat tersebut amatlah tak berguna. Ulat tersebut hanya merusak pemandangan di taman kota ini, ulat tersebut yang membuat dedaunan rusak akibat dimakan olehnya. Ditambah dengan bentuknya yang amat menjijikkan menurutnya, semakin menjadikannya sebagai makhluk paling tidak berguna dalam taman ini pikir sang anak.  Tapi sang anak bingung, sang ayah pernah berkata kepadanya bahwa tidak ada hal yang Allah cipatakan tidak mempunyai manfaat sama sekali di dunia ini .

Lalu dengan segera ia meluapkan hal yang berkecamuk dalam pikirannya.  Sebuah pertanyaan pun terlontar dari sang anak yang begitu lucu dan tampan.  Sang anak bertanya pada sang ayah, “Ayah kenapa Allah menciptakan ulat, Bukankah ia makhluk menjijikan yang hanya bisa membuat kerusakan? Ia bahkan hanya menjadi  bahan caci makian orang-orang.” Dengan bijaksana sang ayah menjawab, “anakku, engkau berkata seperti itu karena tidak tahu manfaat dari ulat tersebut.  Kalau saja engkau mengetahui manfaat dari ulat tersebut, tentu engkau tak akan menghinanya.” Sang ayah melanjutkan. “anakku, tidaklah Allah menciptakan sesuatu itu dengan sia-sia.  Jika engkau tafakuri hewan tersebut lebih jauh lagi, akan ada sebuah pelajaran berharga yang akan engkau peroleh.”  Sang anak bertanya kembali,”pelajaran apakah itu ayahku?”  Sang ayah melanjutkan,” Begini anakku, ulat adalah hewan yang sering dihina karena dianggap hewan yang menjijikan.  Tapi tidak selamanya ia akan terus seperti itu, setelah beberapa waktu ia akan berubah menjadi kepompong.  Di saat itu ia akan berdiam diri tanpa makan dan tanpa melakukan apapun, yang dilakukannya hanya memperbaiki diri menuju perubahan yang lebih baik. Hingga akhirnya  ulat itu berubah menjadi makhluk yang lebih indah daripada ulat yakni kupu-kupu. Itulah hal yang bisa dijadikan pelajaran dari sang ulat.” Sesaat mereka terdiam, sang ayah memperhatian raut wajah anaknya yang agaknya masih sedikit kebingungan.

 

Sang ayah kembali menjelaskan kepada sang anak, “Engkau tak perlu bingung anakku, coba saja engkau perumpamakan ulat tersebut sebagai manusia.  Ulat tersebut dihina karena ia hidup.  Selama ia hidup pastilah ada kesalahan-kesalahan yang dilakukannya.  Sama halnya dengan kita para manusia, selama kita hidup pasti kita berbuat salah.  Dengan kesalahan tersebut biasanya kita dihina dan dijauhi oleh orang-orang di sekitar kita.  Lalu saat hal tersebut mencapai puncaknya, janganlah berputus asa.  Hendaknya kita belajar dari sang ulat yang senantiasa bermuhasabah dan bertaubat untuk merubah dirinya menjadi lebih baik dihadapan Allah dan para makhluknya.  Lalu pada akhirnya kita akan seperti terlahir kembali dalam keadaan yang lebih baik. Kita akan terbang seluas angkasa menjelajahi dunia ini seperti sang kupu-kupu dengan kebahagiaan tiada tara.” Sang anak lalu menanggapi sang ayah, ”Aku beruntung sekali karena aku telah mengerti hikmah dari kehidupan sang ulat.  Aku terkadang bingung ayah, ketika melihat atau mendengar orang yang sengaja mengakhiri hidupnya karena masalah kecil.  Jika aku menjadi mereka aku pasti akan sangat malu dihadapan Allah karena aku tak lebih bijaksana bertindak daripada ulat yang biasa dihina dan dijauhi orang.” Sang ayah agak kaget, tak menyangka anaknya akan berkata seperti itu. Sang ayah pun kembali berkata kepada sang anak, “Aku bersyukur pada Allah yang telah menganugerahkan aku anak yang sholeh dan cerdas.  Apakah sekarang kau sudah paham anakku?” Mereka berdua kembali tertawa bersama meluapkan kebahagiaan yang tadi sempat tertunda.

Begitulah sepenggal kisah dari seorang ayah dan anak di salah satu sudut suatu taman kota yang hijau menawan. Semoga kisah tersebut bisa dijadikan pelajaran dan diaplikasikan bagi kehidupan kita.

 

 

*Materi tarbiyah yang saya baca*😉

2 thoughts on “Belajar dari ulat

  1. cahayadejavu mengatakan:

    cerita yg menarik …
    salam kenal..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: