Sambutanmu (hujan) di Awal Bulan Kedua

Kembali menyambut di awal Februari. Seperti tertata, seakan ia selalu tahu.

Mendadak. Ya begitu saja. Seperti rindu, selalu sesuka hatinya merasuki jasad dan ruh ini.

Rintikannya seperti menggambarkan manakala bola mata tak kuasa menahan berjuta rasa yang menumpuk. Lantas, perlahan menyeruak membasahi.

Mengalir begitu saja, tak menghiraukan cacian yang bertubi-tubi silih berganti.

Kau tetap memperlihatkan pesonamu yang tak akan (pernah) tertandingi.

Layaknya luka yang selalu meninggalkan bekas, kau pun sama. Sisa yang kau sisipkan selalu dianggap merugikan. Entah karena ketamakan yang telah tertanam dalam diri atau alasan klasik lainnya.

Namun, teruntuk pengagummu, selalu saja menyenangkan akhir dari pertunjukan yang telah kau persembahkan. Sebabmulah, rangkaian warna-mejikuhibinu terselip memberikan suatu simpul bahagia.

Duhai hujan…

Duhai Allah Mahapenguasa langit…

Allahumma Shoyyiban Na’fian…

 

-02:02 disertai hujan-